Home / Fenomena / Hebatnya Nalar Arab

Hebatnya Nalar Arab

Nalar Arab itu beraroma atomistik dan sak karepe dewe, demikian Kyai Abied al-Jabiri membuat simpul kuat tentang bentuk dan struktur nalar Arab. Maka wajar jika di Timur Tengah yang terjadi adalah perang sepanjang masa. 
Nalar Nusantara itu bernilai harmoni, kompromi, dan ramah. Maka sulit membuat pecah belah Nusantara. Tidak peduli para imigran Arab itu membungkus nalarnya dalam dawuh dan fatwa agama. Tidak peduli pula bahwa agama itu faktor paling sensitif, rawan dan primordial yang mengikat jiwa-jiwa beragama beresiko menjadi extra reaktif.
Semuanya tetap tidak mempan memecah belah Nusantara menjadi berkapling-kapling faksi. Nusantara tetap satu dan jaya karena nilai bawaan yang ada. Dan tetaplah begitu wahai Nusantarku! Walaupun para importir itu terus mempropagandakan bentuk dan nalar Arab secara terus menerus dan gila dalam balutan dawuh dan fatwa agama.
Walaupun demikian jangan kaget jika banyak orang Islam Nusantara yang terhegemoni oleh bentuk dan struktur nalar arab akibat dalamnya bacaan mereka atas teks Arab. 
Bahasa itu bagian penting dari refleksi kesadaran budaya. Ketika tidak ada kritik atasnya maka yang ada adalah gerusan jiwa bawaan (fitrah) dan tersubstitusi bacaan baru. Saat demikian, seseorang kehilangan fitrah keduanya. 
Ketika segelintir para al-Mukarram Nusantara itu berteriak-teriak pentingnya subtitusi ideologi dan bentuk negara, meng-ignorkan kalimat titik temu Nusantara, dan membalutnya dengan jubah “qaala Allah dan qaala Rasulullah”, sejatinya jiwa-jiwa mereka telah ter-arab-kan dalam stadium akut yang mematikan. 
Tanpa disadari, mereka sebenarnya adalah korban bacaan. Bacaan itu merampok kesadaran bawaan. Bacaan itu merubah imajinasi seseorang tentang bentuk dan ideologi negara. Teriakan mereka tentang khilafah adalah jeritan jiwa-jiwa tenang mereka yang tercerabut.

About Mahsun Fuad

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *