Home / Artikel / Menafsir Al-Qur’an Tanpa Ilmu (rujukan)
Back To Quran

Menafsir Al-Qur’an Tanpa Ilmu (rujukan)

“Siapa saja yang menafsirkan Al-Quran dengan pendapatnya sendiri maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi)

Banyak sekali aliran Islam anyar yang bermunculan dewasa ini dengan mengkampanyekan jargon dan ideologinya “kembali pada Al-Quran dan Sunnah nabi“, sebut saja aliran tersebut meliputi; wahabi, salafi dan MTA (Majelis Tafsiir Al-Quran). Seiring dengan dakwah mereka yang intensif untuk kembali pada Quran dan Sunnah, aktifitas penyerangan dan takfiri (pengkafiran) pada kelompok lain yang mereka anggap ahli bidah, khurafat dan penuh kesesatan juga dilakukan secara terbuka dan habis-habisan. Masih terngiang kiranya ketika ustadz Sukino sekitar tahun 2005-2007 menjelaskan dalam kajiannya bahwa “tahlilan adalah sesat, ziarah kubur itu kafir, tawasul kepada para ulama dan wali adalah bidah, dan masih menurut Sukino, bahwa lebih baik berzina bagi muslim daripada melakukan tahlil, ziarah kubur dan tawasul”. Selain itu, kelompok-kelompok di atas selalu berargumen bahwa amaliyah warga ahlush-sunnah an-nahdliyah yang menjadi mainstream cara berislam kaum muslimin Indonesia penuh penyimpangan dan kesesatan karena tak berdasar pada Qur’an dan hadits.

Back To Quran SunnahSecara teori, seakan apa yang disampaikan kelompok pengiat Quran dan sunnah di atas telah benar dan sesuai dengan ajaran nabi. Memang sudah mafhum bagi kaum muslimin bahwa fondasi vital ajaran Islam adalah Quran dan hadits, Bahkan secara historis yang tercatat pada hadits sahih, Rasulullah pernah bersabda; “aku tinggalkan pada kalian dua perkara, apabila kalian berpegang pada keduanya niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu: Quran dan hadist”. Tatapi kenapa kehadiran kelompok-kelompok ini dinilai secara negatif oleh ulama-ulama besar pada zamannya. Ibnu Taimiyyah dan Muhammad bin abdul Wahab secara intelektual banyak dikritik dan bahkan dianggap sesat oleh para alim dan masyayikh pada erannya. Ustadz Sukino juga mendapat respons yang tak bagus baik dari MUI dan para ulama ahli ilmu dan tafsir Indonesia. Bahkan, MUI dan pengurus besar (PB NU) merekomendasikan alairan MTA ini membahayakan dan meyayarankan pada sang Sukino untuk ngaji lagi tentang ilmu memahami al-quran. Mengingat banyak sekali contoh seperti Sukino dimana dengan pemahamannya yang dangkal dalam memahami ajaran Agama justru gagasan dan ajarannya menjadi “ajaran menyimpang”, penyakit sosial dan meresahkan umat Islam, sebagai contoh adalah: para teroris dan pelaku bom bunuh diri yang menyebarkan ketakutan dan kekerasan padahal mereka mengklaim bahwa tindakannya adalah jihad dan telah sesuai dengan Qur’an dan hadits, kesesatan yang dihasilkan oleh Yusman Roy (mantan petinju yang mendalami agama Islam dan mencetuskan shalat dengan dua bahasa), Agus Imam Sholihin (orang awam yang mengkaji Al-Quran dan akhirnya mengkalim dirinya adalah Tuhan), Ahmad Mushadeq (seorang muslim yang mengaku mendapat wahyu untuk diangkat menjadi nabi akhir zaman) dan masih banyak lagi contoh seperti orang-orang di atas.

Mengingat pentingnya memahami Al-Qur’an dengan ilmu dan perangkat pemahaman yang mumpuni maka jauh-jauh waktu Rasulullah mengingatkan kepada umatnya bahwa; “siapa saja yang menafsirkan Al-Quran dengan pendapatnya sendiri maka hendaknya ia menempati tempat duduknya di neraka” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi). Selain itu, imam Ali bin Abi Thalib radhiallahu’anhu juga mengingatkan seorang lelaki di suatu majelis taklim yang menjelaskan Al-Quran tanpa dasar ilmu yang mumpuni. Beliau berkata; ‘apakah kamu sudah belajar nasikh-mansukh? Lelaki itu berkata: ‘saya belum paham’. Kemudian Ali berkata: ‘sungguh engkau ini binasa, dan membinasakan’. Peringatan dari Rasulullah dan atsar dari imam Ali di atas mengingatkan kita harus selalu berhati-hati dalam mencari guru dan memahami ajaran agama. Jangan mudah kepincut dengan embel-embel Islami (pakaian jubah, jenggot panjang, dahinya penuh tanda hitam dan lain sebagainya) serta seruan kembali pada Al-Quran dan hadits dimana sebenarnya semua itu justru menjadi penyakit yang melumpuhkan intelektualitas ajaran Islam secara hakiki, dan lebih jauh dari itu adalah penyebaran kebencian dan permusuhan antar umat Islam. Bukankah kelompok-kelompok seperti teroris, ISIS, Al-Qaeda, kaum khawarij (pembunuh imam Ali), mu’tazilah, dan syiah juga selalu mengaku bahwa ajaran mereka merujuk pada Qur’an dan hadist nabi? Menjadi tidak jelas dan kabur rasanya antara mana yang malaikat dan mana yang setan apabila keduanya sama-sama mengatasnakan Tuhan dan menggunakan ayat-ayat Quran untuk menjustifikasi kebenaran ajarannya. Maka pada akhirnya ilmu dan kehati-hatianlah yang mengantarkan kita pada jalan kebenaran dan surga. Wallau’alam.

About Saiful Mujab

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *