Home / Artikel / Mengapa Mereka Menjadi “Wali-wali” Allah?
kekasih-allah

Mengapa Mereka Menjadi “Wali-wali” Allah?

waliSahabat yang budiman, sore ini saya akan berbagi sebuah untaian hadist yang sangat menarik. Konon, Hadist ini menjadi salah satu hadist yang dipegang teguh K.H. Abdurrahman Wahid (gus Dur) sebagai falsafah hidupnya. Selain itu, hadist ini juga menjadi rahasia besar para kekasih Allah (waliyullah) sehingga mendapatkan kedudukan (maqom) yang mulia disisi Allah. Sebut saja yang sangat termashur diantarnya adalah; Syaich Abdul Qodir Al. Jailani, Syaich Hatim Al. Ashom dan Syaich Imam Al. Ghazali.

Dalam kitab kecil “wasiyatul musthofa” hal 6, Rasul Muhammad pernah mewejang menantunya Ali r.a dengan kalimat singkat *hai Ali, sesungguhnya para kekasih Allah itu mendapatkan perhatian dan luasnya rahmat Allah bukan karena banyaknya ibadah, tetapi karena rasa kasih-sayang dalam hatinya yang besar terhadap makhluk Allah*. Senada dengan hadist diatas nabiyullah Ibrahim a.s juga pernah menegaskan maqom “khalilullah” (kekasih Allah) yang beliau sandang diantaranya disebabkan karena rasa perhatian dan sayang beliau yang tiada tara pada umat dan tamu-tamu yang berkunjung padanya. Bahkan, ketika oleh umatnya sendiri nabi Ibrahim hendak dibakar, beliau tetap tak mau mendoakan sesuatu yang buruk menimpa para penganiyayanya. Ibrahim justru menadahkan tangannya dan memohonkan ampunan Allah kepada umatnya yang durhaka. Sungguh menabjubkan!

Ungkapan Rasullullah dan cerita nabi Ibrahim diatas sangat penting untuk kita refleksikan sekarang ini. Ditengah sikap egois dan induviualistik yang mewabah secara lumrah di hati kita dan masyarakat muslim modern dewasa ini. Keterangan singkat diatas seakan menjadi wejangan dan peringatan juga bagi kita semua umat Islam yang menjadikan Rasulullah sebagai figur panutan, umat yang merindukan perhatian dari Allah Rabbul Izzati.

Bukan kok termotifasi kepingin jadi wali, sekali lagi bukan dan jangan! tetapi untuk membuat hidup kita di dunia yang singkat ini menjadi berarti dan penuh manfaat, kiranya kita sebagai kader Ansor harus selalu memiliki semangat kasih (rahmat) dalam bertindak, berdakwah dan berjuang. Apalagi ketika kita sering dihadapkan dengan banyak fenomena yang sering membuat emosi kita tersulut, bagaimanapun semangat menegakkan “kalimatullah” dengan rahmah dan akhlaqul karimah tak boleh terlupakan. Semoga Allah selalu melimpahkan taufik dan hidayahnya kepada kita semua. Amiin.

About Saiful Mujab

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *