Home / Fenomena / Mengapa Saya Dipanggil Sahabat Ansor?

Mengapa Saya Dipanggil Sahabat Ansor?

KH. Abdul Wahab Hasbullah sengaja memberikan nama Ansor untuk Banon NU kluster pemuda yang dimaksudkan untuk menarik keberkahan (tabarukan) dan menyaru (tafa’ulan) dan bisa jadi berharap bisa memiliki (tamlik). Paling tidak ada dua nilai tabarrukan pada Nama organisasi Ansor. Pertama, Nama Ansor yang merupakan bagian kata yang terdapat dalam al-Quran, terkait erat dengan karakter yang melekat pada kaum Khawariyyin, loyalis perjuangan Nabi Isa AS pada waktu itu. Di saat banyak umat dan pendukung perjuangan agama dan beliau yang rontok berguguran karena banyak sebab, tinggal komunitas Khawariyyin saja yang masih dalam posisi tetap setia. Maka, ketika mereka ditanya oleh Nabi Isa AS “man ansari ila Allah” (siapa yang bakal menolong aku berjuang di jalan Allah)? Mereka menjawab “nahnu ansharullah” (kami-lah penolong agama Allah).

Ketika kata Ansor (bermakna penolong) dijadikan nama bagi Banon NU kluster pemuda, diharapkan para pemuda NU itu bisa memiliki sifat penolong perjuangan agama sebagaima sifat yang dimiliki oleh komunitas Khawariyyin. Tidak berhenti sampai di sini, karena dalam konsep aqidah (ideologi) Islam, posisi Nabi Isa itu diangkat dan berada di sisi Tuhan, untuk akhir zaman nanti diturunkan ke muka bumi, dalam rangka mengawal perjuangan umat Islam melawan Dajjal dan Iblis, maka GP Ansor berharap menjadi bagian yang dijapri sang Nabi Isa AS untuk mendampingi perjuangan beliau.

Tabarrukan kedua, Kita hapal benar nadlam syair…wajaba as-syukru alaina ma daa’a lillahi da’i (sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bersyukur, sepanjang masih ada orang yang mengajak ke jalan Allah)… Konon syair ini dinyanyikan oleh para sahabat Ansor (sebutan sahabat Nabi SAW asal Madinah) pada saat menyambut kedatangan Nabi SAW dan para sahabat Muhajirin (sahabat Nabi SAW asal Makkah) ketika melakukan hijrah dan tiba di Madinah.

Kata “Ansor” dipakai sebagai nama Banon NU kluster pemuda dalam kerangka tabarrukan dan tafa’ulan kepada para sahabat nabi yang ada di Madinah (sahabat Ansor). Tentang karakter penolong sahabat Madinah ini dapat digambarkan secara sederhana, bahwa mereka mau berbagi apapun yang mereka miliki dengan sahabat Muhajirin.

Sangking cintanya kepada sahabat Ansor, pada suatu waktu Rasul SAW pernah bersabda “al-Ansar kariesy wa ‘ibaaty” (Sahabat ansar itu seperti keluargaku dan jantung hatiku). Nabi SAW juga pernah mendoakan khusus buat mereka “allahumma ighfir lil ansar wa mawalil ansar…”

Dengan nama Ansor, Hadratus Syaikh KH. Abdul Wahab Hasbullah meniatkan agar karakter pemuda NU itu mempunyai karakter seperti karakter sahabat Ansor pada zaman Nabi SAW. Karakter sifat sahabat ini yang sangat berbagi dan suka menolong diharapkan hadir dan menjadi sifat pemuda NU. 

Inilah makna tabarrukan, tafa’ulan dan tamlik mengapa harus diberi nama Ansor. Dalam tradisi dan budaya manapun pemaknaan nama ini hadir dan berdampak sistemik pada si empunya nama.

Begitulah, Sebagai organisasi berbasis tata nilai dan moral kesantrian, nilai tabarrukan dan tafa’ulan menempati posisi luar biasa penting di GP Ansor. Paling tidak ini merangkum soal-soal napak tilas, i’tiraf, dan mahabbah yang diadaptasikan dalam tata nama organisasi. 

GP Ansor merefleksikan sejarah sebagai nilai dan simbol yang menyertai kekinian. Maka muncul pengakuan diri, bahwa Ansor sejatinya sebagai catatan kaki sejarah. Sejarah itu adalah sejarah para kaum penggerak dan pejuang, dari para pendiri negeri, pendiri NU, wali, sampai para Nabi. 

Dimulai dari nama, Ansor adalah tabarukan. Dilanjutkan panggilan satu dengan yang lain dengan sebutan sahabat adalah dalam rangka tabarukan. Dalam satu hadis populer disebutkan “ashabi kan nujum fi sama’ ayyuhum iqtadaitum ihtadaitum” (para sahabatku itu seperti bintang di langit, salah satu secara acak kalian ikuti, kalian bakal mendapat petunjuk). 

Di Ansor tidak dikenal panggilan Ikhwan/akhi atau kawan atau rekan, tapi sahabat. Ini soal ingatan sejarah. Ini soal mahabbah. Ini soal “al-mar’u ala diini khalili”. Ini juga soal “al-mar’u ala man ahabba”. Ini soal agar energi, etos, semangat, dan nasib anak muda Ansor itu mirip dan setara dengan yang dimiliki para sahabat Nabi SAW.

Ada yang bertanya, apa mungkin generasi sekarang bisa mempunyai kaliber sebagaimana kaliber sahabat. Ada sebuah hadis yang bisa menggambarkan kemungkinan itu semua terjadi, yakni “ummati kal mathar, la yudra awaluhum khair am akhiruhum” (umatku seperti hujan, tidak bisa dipastikan, rintik hujan pertama atau yang terakhirkah yang lebih baik).

About Mahsun Fuad

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *