Home / Fenomena / Relasi Pemerintah dan Ormas: Sebuah Renungan

Relasi Pemerintah dan Ormas: Sebuah Renungan

Begitu ada istilah politisi dan birokrat dalam dunia pemerintahan, maka idealnya juga harus ada istilah policy dan administration maker atau sejenisnya dalam dunia ormas. Partisipasi dan atau peran kontrol ormas atas pemerintah baru bisa memadai jika kapasitas ormas juga sama atau paling tidak mendekati dengan kapasitas yang dimiliki pemerintah. Jarak yang nggak nyambung antar kapasitas keduanya yang menyebabkan deviasi praktek suatu pemerintahan terjadi. Banyak ormas yang tahunya hanya “mubtada'” tapi buta akan “khabar” nya program dan kegiatan pemerintah. Pemerintahan yang deviasif mula-mula akan membungkam ormas sejenis ini dengan kue sodaqah bansos. Maka tertidurlah ormas.

Setelahnya adalah suasana yang kondusif bagi marak terjadinya deviasi kebijakan dan implementasi. Dawuh agama yang mengatakan “sinfani min an-nas, in salahaa, salahat ummat, wain fasadaa, fasadat ummat: al-ulama’ wa al-umara'” adalah soal keseimbangan kapasitas, moral, dan peran antara pemerintah dan kelembagaan ulama (ormas). 

Kapasitas keduanya yang baik (bukan apik-apikan: jawa) akan mengantarkan karitas kebaikan dan kesalehan signifikan bagi masyarakat dan umat secara umum. Kapasitas keduanya yang kolutif dan buruk, hanya akan menghadirkan penyimpangan dan kedaliman merajalela.

Kalaulah boleh bertanya wahai ormas? Sudahkah keadaannya begitu? Kalau belum, suasana runyam demikian hanyalah semakna rezim pemerintahan yang despotik. Koalisi keduanya adalah bernilai vested of interest yang busuk yang ikut mengantarkan pada rusaknya tatanan alam semesta raya.

About Mahsun Fuad

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *